GRAFFITI itu coret-coret di tembok kan" kata Jumanto siswa SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan Yogyakarta, ketika ditanya apa itu graffiti. Jawaban sama diungkapkan oleh Akhmad Wakid Ngaffifi murid kelas 3 Sekolah Menengah Teknologi Industri Yogyakarta yang menilai tulisan atau gambar graffiti tergolong kasar. Tidak menggambarkan jiwa pemuda yang terpelajar. Dan yang pasti mengotori keindahan citra Yogya sebagai kota pelajar.
"Upss..apakah yang Jumanto dan Akhmad Wakid maksudkan benar-benar pengertian dari graffiti? "Kelihatannya yang mereka maksud bukan pengertian dari graffiti, mungkin yang mereka maksud adalah aksi vandalisme, yaitu aktivitas corat-coret tanpa izin yang memiliki unsur kejahatan, dengan merusak karya orang lain juga fasilitas atau ruang publik," kata Ipras yang diiyakan Andika Putu Emanuel, graffitor atau pembuat graffiti di komunitas Yogyakarta Art Crimie (Yorc).
Ipras, siswa sebuah sekolah di Kota Yogyakarta yang juga aktif di komunitas Thugwazun mengatakan graffiti itu bentuk seni rupa yang berupa tulisan, garis, bentuk, volume dan gambar yang dilukiskan atau dituliskan di atas dinding. Pembuat graffiti selain disebut sebagai graffitor juga kerap disebut 'bomber'. Meski medianya menggunakan tembok dan disebut graffiti, kata Ipras, tapi kalau tanpa izin namanya tetap vandalisme donk?
"Iya, vandalisme lebih ke kegiatan yang merusak seni yang sudah ada, misal mereka suka mencorat-coret gambar mural yang ada, mencorat-coret fasilitas umum. Sedang graffiti tujuannya lebih ke seni, dan biasanya kita juga menuliskan kata-kata nasihat yang lucu, bukan kata-kata kotor" jelas Rio Priambodo dan Bilma Tea Putra yang juga 'bomber' Yorc .
Salah satu bentuk kreativitas seni lain yang menggunakan tembok sebagai medianya dan tengah berkembang di Yogya adalah mural. Mural, bisa diartikan sebagai lukisan atau gambar yang dituangkan bukan di atas kanvas atau kertas melainkan di tembok sebagai medianya. Mural biasanya berisi pesan moral. Jangan heran kalau saat ini kita banyak melihat tembok rumah, kantor, sekolah, kampus, pasar, mal, dan dinding lapangan olahraga, kini dihiasi seni mural.
Dalam pengamatan Koki Kaca, mural bukan hanya sebatas karya seni semata, tapi juga mengandung pesan moral di dalamnya. Misalnya pesan moral untuk hidup jujur, membuang sampah pada tempatnya, suka menanam pohon, pentingnya sekolah dan belajar, hidup sehat sejak dini, dilarang berjudi, sopan santun di jalanan.
Sekarang ini, kata Ipras, graffiti memang paling digemari oleh anak-anak muda yang mayoritas berusia antara 16-25 tahun. Para graffitor di kota Yogyakarta atau biasa disebut bomber, selalu menuangkan ide-ide mereka di tembok-tembok umum, seperti halnya para seniman mural. "Aku suka graffiti karena bisa mengekspresikan diri aku yang sebenarnya," aku Rio Priambodo.
Coba kawan-kawan suatu saat melintas di jembatan layang Janti. Di sana, kita pasti melihat coretan berwarna-warni di temboknya kan? Nah itulah yang disebut dengan karya graffiti. Untuk mural, paling banyak dapat kita jumpai di tembok-tembok bawah jembatan layang Lempuyangan dan tembok sisi luar stadion Kridosono.
Sedangkan untuk menunjuk bentuk-bentuk vandalisme, kita tidak perlu susah-susah mencarinya. Karena vandalisme ada di sekitar kita. Lihat saja meja belajar di sekolah kalian, tentunya banyak coretan dengan bolpoin, spidol, bahkan dengan tipex kan? Itu yang namanya vandalisme. Hayo apa kalian pernah melakukannya?
Bentuk lain vandalisme ini seringkali dilakukan oleh anak-anak muda atau pelajar sekolah yang membentuk sebuah genk tertentu. Bentuk lain vandalisme yang sangat mengganggu adalah rambu lalu lintas yang dicorat-coret sehingga membingungkan pengguna jalan. Begitu pula, coret-coretan di tempat sampah, WC umum, tempat parkir dan lain-lainnya. Bisa juga kalian lihat di tembok-tembok rumah, kantor, sekolah, rumah sakit, pohon dan taman kota. Objek pariwisatapun tidak ketinggalan jadi ajang kebrutalan para vandalis.
Di Yogyakarta, grafitor atau 'bomber' juga memiliki forum serta komunitas sendiri. Di antaranya Sampah Kota Yogyakarta (SKYK) yang baru saja merayakan hari jadi pertamanya pada 6 Oktober 2008 lalu. Ada pula Yorc, SIC, MERF, FSK, Semar Team, Squad Writer Team, Writer Super Team, Thugwazun, Horny Street Crew, Far Away Team, Doggy Team. Komunitas itu merupakan sebagian kecil dari komunitas graffitor atau 'bomber' di kota Yogya yang sangat majemuk kreativitas dan idealismenya.
Wah, jadi jelaskan sekarang antara graffiti, mural dan vandalisme. Harapannya lewat tulisan ini kawan-kawan bisa lebih ngerti kalau graffiti bukan vandalisme. Dan tentunya kalau kita ga’ mau dikatain vandalis, jangan sekali-sekali kita merusak dengan mencorat-coret fasilitas publik. Lebih indah kalau kemampuan yang kita miliki disalurkan untuk membuat graffiti atau mural.







No comments:
Post a Comment