Bumi memejamkan matanya, mencoba beristirahat dari kerja rodinya yang tidak pernah dihargai. Tapak kaki kecil yang diiringi derap langkah riang berlari kearahnya dan memeluknya, yang sejenak membangunkannya dari mati suri. Ia berkata “bumi jangan tidur, aku sayang bumi!”. Mendengar itu bumi meneteskan air mata, yang membasahi semua dengan kepiluan hatinya. Anak itu mengusapnya dan berkata “bumi jangan nangis, kasihan ayah dan ibu ku, saudara-saudara ku dan semua orang, mereka pasti akan menangis juga, karena air mata bumi mengganggu aktivitas mereka!”. Mendengar itu bumi tak mau egois, dia mencoba menahannya dan merubah semua itu menjadi tawa yang menggelegar, untuk melampiaskan kepiluan hatinya. Tapi cepat-cepat tangan anak itu menutup mulutnya, dan mendendangkan suaranya, “berhenti bumi, kau mengusik semua dengan tawa mu yang keras, kau menghancurkan semua yang ada, kasihan mereka!”. Bumi mulai muak, dalam hati ia berkata “dasar, masih kecil saja kau telah tahu rasa egois, tak mementingkan aku, sama halnya kau dengan mereka!”.
Bumi merasa serba salah, ia marah dan membuat wajahnya memerah, ia goncangkan tubuhnya kuat-kuat, agar terasa amarahnya. Anak itu menangis melihat ulah bumi, ia mencoba dengan tangan kecilnya untuk menenangkan bumi, sambil merengek “bumi jangan marah, aku takut… bumi…tenang…bumi…tenang, aku sayang bumi!”. Bumi terdiam, menghela nafas yang panjang, tapi anak itu berbisik, “ssst…hati-hati dengan nafas mu bumi”. Bumi menatap wajah anak itu, ia mencoba mengusap sisa air matanya, bumi pun berkata, “aku kesal, muak dan cukup lelah. Apa yang pernah bangsa kalian lakukan untuk kebahagiaan dan ketenangan ku ? Kalian mengeksploitasi ku dengan mencukur habis rambut ku, sehingga aku tampak konyol diusia ku yang renta ini. Kalian membuat aku berat dengan tindihan besi-besi yang menjulang tinggi di tubuh ku, yang harus ku pikul berpuluh-puluh tahun, pada hal aku sudah tua! Kalian membuat aku terjaga dari istirahat ku dengan suara-suara bising yang kalian buat dari setumpuk besi-besi berengsek yang menghamburkan asap dan membuat paru-paru ku rusak! Aku muak, setiap kali aku menangis karena besi yang kalian paksa taruh di badan ku, kalian pasti merengek dan menyalahi ku. Setiap aku bersin dan batuk akibat dari besi-besi rongsokan mu itu, kalian pasti meraung-raung sambil menyesali ku. Hai bodoh… aku juga punya perasaan!”
Anak itu mendekati bumi, memegang jantung hatinya, “bumi… aku berjanji aku pasti akan membela mu, tidak akan menggunduli rambut mu, menaruh beban yang berlebihan, dan membuat mu terjaga dari istirahat mu. Tapi tidak sekarang bumi, tangan ku masih terlalu kecil, dan perkataan ku di usia yang masih sangat muda ini tak akan di dengarkan. Bersabarlah bumi…bersabarlah aku sayang bumi!” bumi menanggapi perkataan anak itu dengan nada yang sedih dan putus asa, ia berkata “sampai kapan… sampai kau benar-benar telah mengenal uang? Sampai aku tak kuat lagi menahan semua ini?!” anak tersebut memancarkan kesedihan di matanya seolah ia menyesali telah menjadi bangsanya, ia mencoba menarik kepercayaan bumi dengan berbisik “aku mengerti pasti kau sulit percaya kepada ku, tapi percayalah bumi, setidaknya kau memiliki harapan. Bumi… aku sayang bumi!!”
Bumi bertanya kepada anak itu, “apa janjimu itu benar ?”. Lalu anak itu berkata,”aku janji!! langitmu, awanmu, rumputmu telah mendengar janjiku ini. Kamu masih punya harapan bumi!!”. Bumi hanya diam seakan mempercayakan kepada anak itu kelak ketika ia besar nanti. Anak itu berlari ke sebuah bukit kecil. Berlari, berlari, berlari, terus ia berlari tanpa mengenal lelah. Karena ia percaya bumi lebih lelah dan ia tak boleh menyerah.
Sesampainya di puncak bukit, anak itu duduk di bawah pohon yang tua dan rindang. Ia berkata di dalam hati “bumi mempunyai alam yang indah seperti ini, tetapi kenapa manusia selalu merusak dan tidak pernah puas dengan semua ini?”. Anak itu pun berdiri dan berteriak dengan lantang “Hey para manusia!!! Jangan pernah kau rusak bumi ini lagi!!”.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki tua menepuk punggung anak itu, dengan seketika anak itu menoleh dan terkaget “astagfirullahhaladzim! Bapak ini siapa? Mengapa bapak ke sini?”. Laki-laki itu menjawab dengan suara berat namun lembut “aku adalah petani yang mendengar teriakanmu tadi nak.. sebenarnya kau ini sedang apa di sini, di tempat yang setinggi ini? lalu mengapa berteriak-teriak nak?”. Anak itu menundukkan kepalanya, sambil bercerita mengapa ia berteriak. “Maaf sekali sudah mengganggu bapak tadi. Sebenarnya saya berteriak karena ingin melampiaskan semua kesedihan saya pak. Akibat ulah manusia yang merusak bumi yang sudah tua ini, bumi semakin tidak kuat dengan tempaan besi-besi yang ditanam manusia ke dalam tubuh bumi, mereka juga mencukur rambut bumi yang hijau, serta mengotori semua ini dengan sampah-sampah industri. Tetapi saya hanya seorang anak kecil yang tidak bisa menahan semua itu”.
Lelaki itu tersenyum kemudian berkata “nak..kau sungguh luar biasa !! bangsa ini pasti bangga jika mereka tahu mempunyai calon pemimpin dihari besok seperti kamu. Nak.. dibalik semua ini pasti ada jalan keluar, jangan kau hanya menangis dan berteriak seperti itu. Tetapi lakukanlah sesuatu yang kau bisa untuk mengembalikan keadaan bumi ini menjadi asri seperti dahulu. Kau bisa menanam pohon di lahan yang kosong atau di sekitar rumahmu. Semua hal yang besar, berawal dari hal-hal kecil yang bermanfaat. Kau juga bisa mengajak teman-temanmu, keluarga kamu, tetangga-tetangga kamu untuk menghijaukan bumi ini lagi dengan menanam pohon”.
Anak itu terdiam sejenak, namun tiba-tiba ia berkata dengan penuh semangat sambil mengusap air matanya yang tadi sempat menetes “terimakasih pak! Semoga dengan hal-hal kecil yang kita lakukan dapat merubah menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi semua”. “sama-sama nak, bapak hanya memberi sedikit saran saja. Baiklah nak kalau begitu, bapak pamit dulu. Bapak doakan semua akan berhasil, semua hal yang mulia dan bermanfaat pasti akan mendapatkan kemudahan nak. Bapak permisi ya nak” seusai berpamitan, laki-laki itu menuju ke sawahnya kembali.
“Bumi ! aku datang menyelamatkanmu”, teriak anak itu riang dan penuh semangat. Ia berlari, kemudian berhenti di suatu padang rumput. Ia lalu berkata kepada bumi “bumi, jangan kau bersedih lagi. Aku akan menyelamatkanmu dari sekarang, walaupun hanya hal-hal kecil saja. Semoga bisa bermanfaat untukmu”. Bumi bertanya, “apa yang akan kau lakukan?”. “Aku akan membuat rambut-rambut hijaumu itu tumbuh kembali. Aku akan menanam pohon untukmu”, jawab anak itu. “Apa itu tidak sulit untukmu saja?”, sahut bumi. “Aku tidak sendiri, tetapi aku akan mengajak semua orang yang aku kenal. Sesulit apapun sesuatu yang akan kita kerjakan pasti akan mudah jika kita senang melakukannya dan jangan mengeluh sebelum mengerjakan sesuatu!”, jelas anak itu. “Jika kau tidak keberatan melakukan semua itu, lakukanlah! Sebelum semua terlambat. Terimakasih sahabat”, kata bumi.
“Okelah kalau begitu. Aku akan mulai dari sekarang! Semangat! Semangat!”, kata anak itu dengan semangat sambil berlari kembali rumah. Bumi berkata di dalam hati, “memang tidak ada yang tidak mungkin dan mustahil di dunia ini, semangat mewujudkan harapan, pasti semua ada jalan. Tidak boleh sekalipun kita putus asa. Karena putus asa berarti kita sudah tidak percaya lagi bahwa diri kita bisa dan ada jalan keluar untuk semua ini. Semangat!”.
THE END







No comments:
Post a Comment